TERKUBUR BERSAMA ANGIN 1

Bab 1

Setelah dipenjara selama 5 tahun, hal pertama yang dilakukan Valerie begitu keluar dari penjara adalah memesan upacara "Pemakaman Langit"* untuk dirinya sendiri.

"Nona Valerie, ini adalah jadwal upacara "Pemakaman Langit" yang Anda pesan. Setelah Anda meninggal, jenazah Anda akan dikirim ke Puncak Azure untuk upacara pemakaman. Anda harus  membayar deposit hari ini, dan sisa pembayaran harus dilunasi dalam dua minggu."

Valerie mengangguk.

Dia merogoh saku jeans belel-nya dan mengeluarkan sebuah kantong plastik. Dia menghitung gumpalan uang kertas dan logam di dalamnya dengan hati-hati. Uang tabungan yang dikumpulkannya dengan susah payah selama di dalam penjara. Dan membayarkan sejumlah uang deposit untuk biaya pemakamannya.

Di dalam penjara, dia telah didiagnosa menderita kanker stadium akhir, dan kemungkinan sisa hidupnya hanya tinggal sebulan lagi.


Bertahun-tahun yang lalu, dia dan Fabian sudah mengikat janji bahwa mereka akan menikah di kota Eleyburn, dimana para dewa yang mendiami Puncak Azure akan menjadi saksi cinta mereka.

Janji pernikahan itu tidak akan mungkin terwujud lagi sekarang.

Tapi setidaknya tempat itu akhirnya bisa menjadi tempat peristirahatan abadinya.

Meskipun biaya pelaksanaan upacara "Pemakaman Langit" ini tidaklah murah.


Setelah dari sana, Valerie mengunjungi klub malam Nightfall untuk melamar pekerjaan sebagai waitress. Dia perlu secepatnya  mencari uang untuk  melunasi sisa pembayaran pemakamannya itu.

Karena dia punya catatan kriminal, tak ada banyak tempat yang mau menerimanya bekerja. Tapi Nightfall adalah klub malam paling mewah yang ada di kota Nobert, dan waitress disana digaji cukup tinggi.

Setelah  memahami peraturan kerja, dia diberikan seragam dan langsung mulai bekerja malam itu juga.

Sesuai dengan pelatihan kerja yang diterimanya, Valerie membawa sebuah baki berisi minuman keras menuju ke salah satu ruangan VIP. Ruangan itu temaram. Sekumpulan sosialita dan anak-anak muda kaya sedang bercanda dan bermain sambil mabuk.

Valerie membungkuk untuk meletakkan minuman yang dibawanya ke atas meja, tanpa mengeluarkan suara. Ketika dia berbalik arah dan melangkah menuju  pintu keluar, mendadak terdengar sebuah suara yang cukup akrab di telinganya. Tubuhnya terpaku. Benar saja, di sofa tengah, dia melihat Fabian duduk dengan angkuh seperti raja yang dikelilingi bawahannya.

Bayangan lampu di ruangan itu semakin mempertegas garis wajahnya yang tajam, membuat aura bossy-nya semakin menonjol.


Setelah lima tahun tak bertemu, wajahnya  masih tetap sama. Valerie melihat ke arahnya sekali lagi dan menyadari keberadaan seorang wanita di pelukannya. Sahabat akrabnya dulu, Sasha. 

Sasha dan Fabian sedang membicarakan rencana pernikahan mereka. 

"Pesta pernikahan kita dilaksanakan di sebuah gereja di tepi pantai saja ya. Seperti keinginanmu. Seluruh permukaan pasirnya nanti kita taburi dengan mawar pink. Dan kalau kau tidak suka dengan baju pengantin rancangan designer kemarin, kita ganti saja dengan design yang baru nanti. Pokoknya semua harus sesuai dengan keinginanmu."

Valerie mendengar pembicaraan mereka, tanpa sadar pikirannya melayang ke peristiwa 5 tahun yang lalu.


Dia tinggal selangkah lagi saja untuk menjadi pengantin perempuan Fabian. Dia adalah sahabat masa kecilnya, mereka tumbuh bersama.

Ketika orangtua Valerie meninggal dunia, Fabian lah yang selalu ada di sampingnya dan menghiburnya.

Fabian memboncengnya naik sepeda ke sekolah dan berkelahi dengan siapa saja yang mem-bully-nya di  sekolah. 

Ketika dia mengalami menstruasi pertamanya, meskipun wajah Fabian memerah karena malu, tapi dia tetap memberanikan diri untuk membelikan pembalut untuknya.

Kebersamaan yang panjang itulah yang telah membuat mereka jatuh cinta satu sama lain.

Selangkah demi selangkah, mereka berjalan merintis masa depan bersama.


Lalu, di malam sebelum pesta pernikahan mereka, Valerie  menabrak ibu Fabian, Amelia, dengan mobilnya.

Valerie tidak akan pernah lupa bagaimana wajah Fabian malam itu.

Matanya memerah dan kemarahannya yang membabi-buta.

Dia mendorong Valerie ke dinding dan bertanya kenapa Valerie membunuh ibunya.

Tak pernah dalam hidupnya Valerie merasa setidak-berdaya itu.  Dia hanya bisa tersenyum dan berkata,

"Apa boleh buat. Dia memergoki aku bersama laki-laki lain di tempat tidur dan mengancam akan mengadu padamu. Aku marah dan akhirnya menabraknya."

Dia tak bisa melupakan bagaimana Fabian melihatnya malam itu. Kemarahan, kebencian, kekecewaan tercampur aduk, membuat Valerie merasa seperti tercekik,

Pada akhirnya, Fabian melaporkannya ke kantor polisi.

***

Selama menjalani lima tahun masa tahanannya, kenangan itu selalu terbayang di kepalanya.

Seandainya dia  memberitahukan alasan yang sebenarnya, apakah ada yang akan berubah? Tapi sekali lagi dia mengingatkan dirinya, kalau dia tidak boleh melakukan itu.

Karena alasan sebenarnya pada malam itu adalah karena ibu Fabian yang mengalami depresi berat yang berkepanjangan.

Di malam sebelum pesta pernikahannya, depresi Amelia tiba-tiba kambuh dan dia kehilangan akal sehatnya. Dia tidur dengan bodyguard ayah Fabian, Matthew, karena mengira Matthew adalah suaminya.

Waktu itu Valerie tidak sengaja melihatnya, sewaktu dia lewat untuk mencari Fabian. Ketika Amelia tersadar, dia langsung histeris dan memohon agar Valerie tidak menceritakan kejadian itu pada siapapun.

Awalnya Valerie ragu, tapi akhirnya dia setuju.

Tapi dia tidak pernah menduga kalau ibu Fabian akan berlari ke depan mobilnya yang sedang melaju malam itu.


Keluarga Fabian adalah keluarga kaya dan terhormat. Kalau sampai kejadian sebenarnya terungkap, skandal itu akan menghancurkan reputasi Fabian dan Grup Porter milik keluarganya.

Siapa yang tahu apa yang akan dipikirkan orang lain. Bisa-bisa orang juga mempertanyakan keabsahan Fabian sebagai anak kandung keluarga Porter.

Demi Fabian, Valerie memilih untuk menjadi kambing hitam.


Dan sekarang, dengan kematiannya yang sudah membayang di depan matanya, dia tak lagi merasa butuh untuk membersihkan nama baiknya.

Kalau Fabian membencinya, yah apa boleh buat.

Setidaknya, dengan begitu, waktu dia meninggal, tak akan ada lagi perasaan yang tersisa.


Dengan tubuh gemetar, dia berbalik arah dan berjalan menuju ke pintu keluar. Tapi ada suara di belakangnya yang tiba-tiba memanggilnya.

"Valerie? Kau sudah keluar dari penjara?"

Valerie mendadak gemetar, tak berani memandang ke arah sumber suara.

Ketika dia tetap berjalan ke pintu keluar, ada yang menjegal kakinya dan membuatnya tersungkur.

Karena kaget, Valerie menabrak meja sebelum akhirnya terjatuh ke lantai.

Pecahan kaca tertancap di telapak tangannya dan mengalirkan darah.

Semua orang tertawa terbahak-bahak.

"Astaga, Valerie! Begitu keluar dari penjara, kau sudah harus bekerja banting tulang? Luar biasa!"


Valerie tidak  menjawab, sambil menekan luka di telapak tangannya yang berdarah.

"Apa yang kau tunggu? Kau menumpahkan semua minuman keras ini ke lantai. Bersihkan! Sambil berlutut!"

Mereka semua tertawa.

Karena tak punya pilihan, Valerie meraih serbet dari kantong celemek nya dan berlutut untuk membersihkan tumpahan minuman keras di lantai.

Meskipun dia menundukkan kepalanya, Valeria bisa merasakan tatapan  mata penuh kebencian dari Fabian. Seperti sebilah pisau yang melayang di atas kepalanya, menunggu waktu untuk menikam.

Fabian sangat membencinya.

Dia pasti merasa sangat puas melihat penderitaanya.


Dia membersihan tumpahan minuman keras itu dengan buru-buru. Berdiri dan langsung melangkah ke pintu keluar. Tapi mereka tidak berencana membiarkannya berlalu begitu saja.

"Eh, kau mau pergi kemana? Ini minuman mahal. Bagaimana caramu membayarnya?"

Valerie mengepalkan tangannya, tak berani  menunjukkan wajahnya.

"Maaf, aku tak sengaja."

"Hanya kata maaf saja tak cukup. Karena kau tak sanggup membayarnya. Kuberikan kau pilihan lain. Kau harus merangkak dibawah kakiku, maka hutangmu kuanggap lunas."


Lalu pria itu meletakkan kakinya di atas sebuah kursi pendek sambil menyeringai ke arah Valerie.

Yang lain semua tertawa dan mulai bersorak, merangkak! Merangkak!

Valerie sangat malu mendengar tawa dan ejekan orang-orang itu.

Tak ada pilihan lain.

Dia tak punya uang untuk  membayar mereka, dan  mereka terang-terangan melakukan hal itu untuk melampiaskan kemarahan Fabian.

Walaupun dia menolak untuk merangkak, mereka hanya akan mencari cara lain lagi untuk mempermalukannya.

Setelah menghabiskan waktu lima tahun di dalam penjara, harga diri sudah tidak terlalu berarti lagi baginya..


Pandangan matanya mulai kabur oleh air mata, dia menggigit bibirnya sangat keras hingga hampir berdarah.

Akhirnya, dia berlutut di depan laki-laki itu.

Ketika dia menundukkan kepalanya dan akan mulai merangkak, tiba-tiba meja di depannya ditendang dengan sangat kuat hingga rusak.

Lalu terdengar suara tajam yang berkata: "Cukup!"

Tiba-tiba saja ada yang menarik lengannya begitu keras dan membawanya keluar.


Di lorong yang temaram, Fabian mendorongnya dengan kasar ke dinding. Matanya menyala penuh kebencian.

"Valerie! Kenapa kau jadi seperti ini?!"

Dia memukul dinding di belakangnya, membuat Valerie gemetar.

Valerie memandangan dan berkata:

"Kau seharusnya tak perlu membelaku. Karena dengan begitu, ibumu tak bisa beristirahat dalam damai."

Kemarahan Fabian meledak dan dia mendorongnya lagi ke dinding.

"Membelamu? Jangan bercanda ya! Aku membawamu keluar untuk membuat kesepakatan.

Kau butuh uang kan? Kau harus menunggu di depan pintu kamarku sepanjang malam ini, maka aku akan membayarmu! Mulai saat ini, kau harus selalu berada di dekatku. Maka kujamin kau akan mendapat lebih banyak uang daripada gajimu menyajikan minuman di tempat ini."

Sebelum Valerie bisa menolak, Fabian melemparkan segepok uang ke wajahnya.

Sudut uang kertas yang tajam itu menggores wajahnya hingga berdarah. Dia sadar, kalau semua itu adalah cara Fabian untuk membalas dendam kepadanya.

Malam itu, Valerie berdiri di depan pintu kamar Fabian, mendengarkan dia dan Sasha bermesraan sepenjang malam di tempat tidur.


Note:

(*)Pemakaman Langit: upacara pemakaman dimana jenazah akan di letakkan di puncak gunung untuk dimakan hingga habis oleh segerombolan burung nasar.



Design by WPThemesExpert | Blogger Template by BlogTemplate4U